Home > Uncategorized > Ijazah Palsu dan Profesi Palsu

Ijazah Palsu dan Profesi Palsu

Beberapa hari terakhir, media massa di Indonesia tidak terkecuali harian Kedaulatan Rakyat memberitakan usulan Kopertis Wliayah V Yogyakarta kepada Dirjen Dikti Depdiknas perihal penutupan program studi Bimbingan dan Konseling, STKIP Catur Sakti, Bantul DIY. Otoritas kopertis mengatakan bahwa program studi tersebut ditengarai telah mengeluarkan ijazah dan transkrip palsu kepada 1.463 sarjana pendidikan. Praktik tersebut telah berjalan sejak tahun 2002 – 2008. Fantastis! Jumlah yang luar biasa banyak dan rentang waktu yang sedemikian panjang.Beberapa hari kemudian, muncul pernyataan dari Badan Kepegawain Kabupaten Bantul dan Gunungkidul yang berjanji akan menelusuri kemungkinan-kemungkinan penyebaran sarjana pengguna ijazah palsu di lingkungan pemda-nya masing-masing dan tidak segan-segan mencabut status kepegawaian, minimal penurunan pangkat, dan penghentian tunjangan fungsional pegawai dimaksud.

Ditilik dari sisi program studi yang dimaksud, kemungkinan terbesar penyebaran sarjana (palsu) ada di lingkungan dinas pendidikan di DIY dan Jawa Tengah. Perlu diketahui bahwa program studi BImbingan dan Konseling merupakan program yang dimaksudkan mencetak pendidik bidang bimbingan dan konseling yang berprofesi sebagai guru BK atau konselor. Salah satu rentetan persoalan yang muncul sekarang, sejauh mana keberanian pemerintah dalam menindak guru-guru pemegang ijazah palsu, terutama mereka yang telah mengantongi sertifikat pendidik (telah dinyatakan lulus dalam program sertifikasi guru).

Ketegasan tersebut mutlak diperlukan dengan beberapa alasan berikut: 1) demi alasan profesional dan kode etik, tindakan dan segala sesuatu yang bertentangan dengan prinsip etis profesional akan memperlemah kepercayaan masyarakat (public trust) terhadap profesi bimbingan dan konseling. Apalagi dewasa ini, profesi BK (ABKIN) tengah berjuang keras untuk meng-counter image negatif BK (polisi sekolah, mr. point, profesi tak jelas/tak ada kerja); 2) mempertahankan guru-guru bersertifikat pendidik yang terbukti memiliki ijazah palsu hanya akan menumbuhkan kecemburuan sosial di kalangan guru lainnya yang berusaha keras untuk meningkatkan keprofesionalannya dengan cara-cara legal-bermartabat.

Tunggu uneg-uneg selanjutnya

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. margono
    March 10, 2009 at 4:54 am

    Sungguh mengerikan dunia pendidikan kita, ditengah reformasi birokrasi yang semakin gencar, ternyata terselip borok yang cukup memilukan. Ibarat setitik nila dalam susu sebelanga, dunia pendidikan kita telah tercemar. Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi teladan, justru disanalah banyak terjadi masalah. Sebelumnya kita masih ingat kekerasan di sekolah, pencabulan murid, dll. Mungkin guru-guru kita telah ternoda, pertanyaan besar saya: Bagaimana bisa mengajar dengan baik, jika dia sendiri mendapat ilmu tidak dengan cara yang benar. Apalagi yang terkuak adalah jurusan BK di salah satu PT di Bantul, yang sebelumnya BP identik dengan polisi sekolah, tukang cukur, dll. Usut tuntas manipulasi ini, tidak hanya diberi sanksi penurunan pangkat, tetapi dipidanakan (ancamannya 5 tahun penjara), pecat dengan tidak hormat. Kembalikan citra “Umar Bakri” yang sudang tercoreng…

  2. margono
    March 10, 2009 at 4:56 am

    Sungguh mengerikan dunia pendidikan kita, ditengah reformasi birokrasi yang semakin gencar, ternyata terselip borok yang cukup memilukan. Ibarat setitik nila dalam susu sebelanga, dunia pendidikan kita telah tercemar. Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi teladan, justru disanalah banyak terjadi masalah. Sebelumnya kita masih ingat kekerasan di sekolah, pencabulan murid, dll. Mungkin guru-guru kita telah ternoda, pertanyaan besar saya: Bagaimana bisa mengajar dengan baik, jika dia sendiri mendapat ilmu tidak dengan cara yang benar. Apalagi yang terkuak adalah jurusan BK di salah satu PT di Bantul, yang sebelumnya BP identik dengan polisi sekolah, tukang cukur, dll. Usut tuntas manipulasi ini, tidak hanya diberi sanksi penurunan pangkat, tetapi dipidanakan (ancamannya 5 tahun penjara), pecat dengan tidak hormat. Kembalikan citra “Umar Bakri” yang sudah tercoreng…

  1. March 7, 2009 at 3:37 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: